Tupai

Alkisah, terdapat sebuah negeri yang diperintah oleh seorang raja yang terkenal arif dan bijaksana. Raja itu memiliki hewan peliharaan yang sangat ia sukai, seekor kucing dan tupai. Raja tersebut dikaruniai sepasang anak, laki-laki dan perempuan, yang sangat ia sayangi. Sebagai bukti rasa sayang dan sukanya, ia selalu menggunakan waktu senggangnya untuk bermain dengan anak-anaknya, termasuk juga dengan kucing dan tupainya.

Suatu ketika sang raja, ditemani beberapa pengawalnya, berjalan-jalan keliling kota. Dengan menggunakan batik, ia menyamar sebagai rakyat biasa. Begitu juga keenam pengawalnya, sebagian berpakaian batik dan sisanya ber-kaos oblong. Tidak nampak sedikitpun tanda-tanda anggota kerajaan pada diri mereka. Dan, waktupun berjalan.

Desa pertama dilewati sang raja. Di desa itu Ia mendapati sebuah rumah sederhana, yang mungkin saja tidak menarik perhatian. Rumah berdinding anyaman bambu dan beratap rumbia, dengan sedikit halaman di samping dan depan rumah, merupakan bentuk ideal pemukiman warga pada saat itu, yang selalu dijumpai berderet di samping jalan desa.

Namun ada yang menarik hati Raja, sehingga ia berhenti sejenak untuk mengamati dan menganalisa. Rumah itu dikelilingi banyak kucing dengan berbagai tingkat usia. Beberapa kucing dewasa, jantan dan betina. Beberapa lagi masih kecil, dan terlihat satu – dua anak kucing itu sedang menetek. Terlihat juga beberapa kucing betina usia remaja yang siap bereproduksi. Hal lain yang juga menarik perhatian sang raja, tidak ada iklim persaingan, apalagi black campaign, antara kucing satu dengan lainnya. Sebuah fenomena yang menghasilkan hipotesa bahwa si majikan telah memberi kecukupan pada mereka (kucing), sehingga tidak diperlukan lagi kekuatan untuk baku rebut satu sama lain.

Sebagai uji validitas hipotesis, raja memilih salah satu tetangga rumah dengan menggunakan teknik purposive random sampling. Raja sangat memperhatikan keabsahan dan kevalidan data,Maka dipilihlah tetangga yang berseberangan jalan, tepat di depan lokasi. Dengan bermodal komunikasi aktif dan efektifnya, ditambah gesture tubuhnya yang cekatan, Raja dapat langsung akrab dengan salah satu penduduk tersebut, yang ternyata bernama Amin. Ia menanyakan perihal rumah berpenghuni kucing yang tepat berseberangan dengan rumah pak Amin. Dan, pencarian data tersebut menghasilkan sebuah tesis bahwa si tuan rumah selalu memberi ‘kecukupan’ kepada kucing-kucing tersebut.

Raja pun bertitah kepada salah satu pengawalnya

“Ente bawa satu kantong emas ini, lalu ente kasihkan sama penghuni rumah itu.” Kata raja. “Saya tidak mau tahu bagaimanapun caranya, yang penting ini kantong emas harus sampe ke tangan si tuan rumah. Kalo dia tidak ada di rumah, maka ente harus tunggu dia sampe datang, dan ente tidak boleh pulang sebelum memberikan kantongan ini ke empunya”. Sambung Raja.

“Baik, Bos”. Jawab pengawalnya.

Raja tersenyum dengan jawaban pengawalnya. Memang sebelum berangkat, Raja sudah sepakat dengan para pengawalnya agar tidak memanggilnya dengan sebutan raja, ia khawatir akan mempengaruhi independensi data. Sebutan raja hanya akan menghasilkan interverensi data, yang disebabkan oleh unsur emosional sumber data. (cukup kita saja sebagai pembaca yang tahu kalo dia itu raja. Selain pengawalnya, semua aktor dalam cerita ini tidak tahu kalo yang sedang jalan-jalan itu adalah raja mereka).

Setelah berpamitan kepada pak Amin, Raja meninggalkan desa tersebut dengan ditemani lima pengawalnya.

Beberapa waktu berselang, tibalah sang raja di sebuah desa yang berada di pinggiran hutan. Pengamatan sekilas pra observasi menghasilkan deskripsi bahwa desa itu dihuni oleh para petani. Mayoritas penduduk desa berprofesi sebagai petani. Terlihat beberapa orang sedang menjemur padi di pelataran rumah, para ibu dan gadis sedang asyik bercengkerama sambil menumbuk butiran padi, sayur mayur yang terikat rapi dan digantungkan pada tiang depan pojok tiap rumah, dan beberapa rumah memiliki sapi atau kerbau, lengkap dengan alat pem-bajak sawah yang digantung pada samping kandang. Memang, sebuah ciri khas desa petani.

Sebenarnya sang raja tidak ingin singgah di desa tersebut, namun ada hal yang menggelitik nuraninya sehingga memaksa dia singgah untuk memenuhi curiousity-nya. Pada salah satu rumah yang ia lewati, terdapat banyak sangkar burung yang digantung di teras rumah. Uniknya, bukan burung yang menghuni sangkar, tetapi tupai. Satu sangkar burung dihuni lebih dari dua ekor tupai. Diperkirakan terdapat lebih dari 20 ekor tupai menjadi penghuni tetap sangkar tersebut.

Singkat cerita, dari beberapa data yang diperoleh, didapatkan sebuah kesimpulan bahwa si penghuni rumah memiliki kecenderungan suka mempermainkan dan mengeksploitasi tupai. Seringkali juga tetangga sekitar melihatnya membunuh tupai. Sang raja marah besar, kemudian ia perintahkan empat pengawalnya untuk menangkap orang tersebut dan membawanya ke penjara.

Kesimpulannya sederhana, bahwa raja memberi hadiah kepada orang yang baik kepada kucing karena sang raja juga menyukai kucing. Ia memberi penghargaan kepadanya karena ia telah berbuat baik pada kucing, bukan karena perbuatannya atau loyalitasnya pada kerajaan atau raja. Begitu pula sebaliknya, dikarenakan sang raja menyukai tupai, ia memberi hukuman (punishment) kepada orang yang mengeksploitasi dan menyakiti tupai, bukan karena dia telah berbuat makar atau memberontak kepada kerajaan.

 

Cerita diatas memang fiktif adanya, tetapi ada beberapa hal yang dapat kita jadikan pelajaran, bahwa terkadang Tuhan memberi kita rizki bukan karena Dia melihat diri kita, atau ketaatan dan ibadah kita. Bisa jadi Tuhan memberi rizki kepada kita dikarenakan anak kita, atau orang-orang di sekeliling kita, atau bahkan karena hewan peliharaan kita. Begitu juga sebaliknya. Ketika kita jatuh atau meningkat dalam karir dan status, terkadang bisa jadi juga bukan karena loyalitas kita. Bisa jadi karena teman atau kolega kita, tergantung dari jenis relasi yang dijalin. Pesan moral yang terpenting, Berbuat baiklah kepada semua makhluk-Nya, karena kita tidak tahu dari jalur mana dan melalui apa Tuhan memberi rizki kepada kita. Begitu pula sebaliknya, janganlah suka membuat makhluk lain (manusia, hewan, tumbuhan) susah dan sedih, apalagi menyakiti, karena kita juga tidak tahu apa yang menjadi sebab Tuhan menurunkan azabnya kepada kita.

 

We never know what God’s mean, we can only guess. Keep eyes open, and careful.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s